KEKURANGAN
INI MEMBUATKU KUAT
Tampak kesibukan yang terjadi dirumah pak
yarto, pagi-pagi sekali anak bungsunya bangun untuk menyiapkan segala
keperluannya untuk barang dagangannya. Anak bungsunya ini memang sangat giat membantu
ayahnya yang hanya penjual ikan keliling, ia kini berumur 17 tahun dan menimbah
ilmu di sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan jurusan tata boga. anak
bungsunya ini bernama Erna, sejak dari kecil sudah membentuk karakter menjadi
seorang pekerja keras dan pantang menyerah. Ia juga mengerjakan pekerjaan yang
seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa.
Dengan demikian menjadikan Erna anak yang tak
bergantung kepada orang tuannya. Sejak bangun dari tidurnya Erna sudah harus
bersiasat dengan waktu. Ketika selesai shalat subuh ia sudah harus menjajahkan
daganganya menyusuri jalan berkeliling kampung pada agen-agen yang siap
membantunya. Belum lagi ia harus membantu ayahnya kepinggir laut menunggu para
nelayan naik dengan ikan tangkapannya.
Hidup Erna sangat tidak beruntung, ia terlahir
dari keluarga yang miskin dan kini ia harus menderita akibat dikucilkan oleh
temannya dan menjadi korban pembulian yang tak bisa menerima seorang Erna. Erna
yang menderita cacat fisik ini harus gigit jari ketika teman sebayanya dapat
bermain dan hidup normal tanpa ada beban fisik yang dipikulnya. Namun
kekurangannya itu tidak lah membuatnya patah semangat bahkan hal tersebut
menjadi motivasi terus berkarya.
Di saat umurnya sembilan belas tahun ia memutuskan
untuk berhenti sekolah karena keterbatasan biaya, namun ia tetap menggeluti
pekerjaannya sebagai pedagang keliling. Dengan begitu dia merasa sangat percaya
diri melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat dari pekerjaan sebelumnya.
Untuk menambah penghasilan ia bekerja sampingan sebagai tukang cuci, semir
sepatu, dan pemulung.
Hidup Erna tak lepas dari penderitaan,
ditambah ibunya yang terserang penyakit kanker rahim, dia tak tau harus berbuat
apa lagi, biayanya pun tidak sedikit, Jangankan memikirkan pendidikan biaya
makan sehari-hari saja sulitnya bukan main. Erna adalah tulang punggung
keluarganya, ia bekerja keras agar bisa mencukupi keperluan hidup sehari-hari,
Ayahnya pun sudah sangat tua. Sakit ibunya tak berlangsung lama, ibunya pun meninggal
dunia. Erna dan ayahnya sangat sedih, mereka hanya tinggal berdua karna
saudara-saudara Erna juga pun sudah meninggal dunia.
Kebutuhan sehari-hari semakin meninggkat,
sedang Erna tdak memiliki persediaan makanan lagi dirumahnya. Akhirnya dia pun
meminjam uang kepada rentenir. Kemudian dari itulah ia membeli kebutuhan
sehari-hari. Tetapi tidak sampai disitu saja, Erna pun semakin bersemangat
menjalankan hidupnya dan terus pekerja dan tidak patah semangat.
Suatu ketika Erna mencari pekerajaan, dalam
perjalanannya ia tak
sengaja menabrak seseorang.
“maaf..” ucap Erna tulus. (kemudian Erna
berbalik dan terkejut melihat seseorang yang ia tabrak tadi)
“ Erna...’’ sapa gadis yang bernama siska.
“si...siska” ucap Erna dengan terbata-bata
“ Erna, apa kabar?” ucap siska
“alhamdulillah, baik!” jawab Erna dengan
sangat gembira
“bagaimana keadaan kamu sekarang?” tanya siska
dengan penasaran
“seperti yang kamu liat sekarang, tidak ada
perubahan dalam hidup saya!” jawab Erna dengan penuh kepiluan
“dimana kamu tinggal sekarang, apa kabar ayah
dan ibumu?” tanya siska
“kami masih tinggal di rumah peninggalan
kakek, ayahku alhamdulillah baik, dan ibuku baru ini meninggal dunia akibat
penyakit kanker rahim yang dideritanya.” Jawab Erna dengan meneteskan air mata.
“apakah kamu mempunyai pekerajan?” tanya siska
“tidak, aku baru ingin mencari!” jawab Erna
dengan sangat bersemangat
“kalo begitu, aku dapat memberimu pekerjaan,
tapi apakah kamu mau menjadi pencuci piring?” tawaran siska dengan rasa
canggung
“tidak masalah yang penting pekerjaan yang
halal.” Jawab Erna dengan sangat gembira
Erna dan siska
merupakan teman lama, mereka cukup akrab. Dengan pekerjaan yang diberika siska,
Erna kemudian dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membayar utang pada
rentenir. Hal itu juga yang membuat ia memikirkan cara untuk membuka usaha
sendiri, dengan modal yang seadahnya.
Dalam usia Erna
yang beranjak dewasa, ia pun memutuskan untuk membuat usaha peyek di kampungnya
dan ia jual ke warung-warung terdekat. Disinilah Erna kerap mendapatkan cobaan, buatannya selalu saja ditolak. Apalagi ketika
para peimilik warung mengetahui bahwa orang cacat dan orang miskin yang
membuatnya . “ah.. peyek tidak
berkualitas bagus, pasti rasanya juga tidak enak.” begitu kata orang-orang pada
saat awal-awal ia menitip peyek.
Erna
tak mau putus asa. Ia tetap mencari warung-warung lain yang mau menerima peyek
buatannya. Dari sekian banyak warung tempanya menitipkan dagangannya. Hanya 5
warung yang menerimanya, belum lagi ocehan yang di terimanya. “kenapa peyek
buatanmu sangat sedikit, juga kacangnya tidak ada! Aku hanya ingin ambil
sedikit.” Kata pemilik warung.
Semakin
lama penjualan peyeknya pun semakin tidak memeberikan hasil ,akhirnya ia pun berhenti . Jadi, ia ingin membuat usaha
lain yang menurutnya banyak peminatnya dan dengan modal yang terjangkau pula .
Setelah berpikir cukup keras terlintas di benaknya untuk membuat kue pisang ijo
yaitu pisang yang dibungkus dengan balutan dadar yang berwarna hijau.Kue ini merupakan kue
khas sulawesi selatan, Makassar. Kue ini adalah kesukaan almarhuma ibunya, hal
ini membuatnya semakin semangat dalam menjual pisang ijo tersebut.
Dengan
kemauan yang kuat dan kerja kerasnya , Erna berharap agar penjualan pisang ijo
nanti disukai oleh banyak kalangan
sehingga mampu memberikan penghasilan yang banyak pula. Erna pun memulai
langkahnya dengan mengucapkan basmalah, ia menjual dagangannya di pinggir jalan
dekat keramaian kota .
Ternyata
tempat ini sangat strategis,banyak pembeli yang singgah dan membeli pisang ijo Erna.
Banyak pula pembeli yang memuji bahwa rasa pisang ijonya sangatlah enak dan
khas . Erna sangat bersyukur dan dia teringat pada ibunya yang sering
membuatkannya pisang ijo .
“wau,
pisang ijo buatan kamu enak sekali “
puji salah satu pelanggan wanita dengan blouse merah jambu yang ia kenakan .
“terimakasih
bu’ ... “ jawab Erna sambil menundukkan kepala
“ Sama-sama
,oh ya kenalkan saya ibu Tika (sambil mengulurkan tangannya pada Erna) . lusa
saya akan mengadakan arisan di rumah saya , dan saya ingin memesan sekitar 50
porsi pisang ijo ’ .apakah kamu sanggup ?
“50
porsi ? “ tanya Erna kaget
“ iya
, masalah harga tidak usah khawatir “ jawab wanita itu dengan santai.
“
baiklah bu “ ucap Erna degan senyum di bibirnya
“
baik , saya tunggu yah pisang ijonya
(sambil memberi alamat rumahnya dan sejumlah uang). “ ucap wanita itu ramah
Sesampainya
di rumah Erna memberi tahu kabar gembira ini kepada ayahnya dan kebahagiaan pun
terlihat jelas di raut wajah bapaknya. Tak membuang waktu , Erna pun ke pasar
untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan sementara ayahnya mempersiapkan
alat-alat yang dibutuhkan .
Waktunya
pun tiba ,Erna mengantarkan pisang ijo tersebut ke alamat yang diberikan wanita
itu. Tamu-tamu terlihat sangat menikmati pisang ijo buatanya.
“wah pisang ijonya enak sekali , pesan dimana ibu ? “ kata salah seorang tamu arisan yang hadir
“wah pisang ijonya enak sekali , pesan dimana ibu ? “ kata salah seorang tamu arisan yang hadir
“
syukurlah kalau ibu menyukainya. Kemarin saya membeli pisang ijo di penjual kaki lima, karena rasanya sangat enak
sayapun memesannya . itu penjual pisang ijonya (sambil menunjuk ke arah Erna) “
“hei
nak , wah masih kecil udah jago masak . kamu udah ada kerjaan tidak ? “ tanya ibu itu menghampiri Erna
“
saya tidak punya pekerjaan tetap ibu , saya hanya pedagang kaki lima yang
menjual pisang ijo “ jawab Erna
jujur
“kalau
begitu apa kamu mau bekerja di tempat saya ? saya punya restoran kecil , tapi
tidak ada yang kelolah . Mungkin kamu bisa ! katanya mengejutkan Erna
“benarkah
? apa saya boleh bekerja di tempat ibu ?”
tanya Erna memperjelas
“
bukan hanya bekerja tapi saya akan meminjaman restoran untuk kamu kelolah ,
modalnya saya yang akan fasilitasi dulu dan untunya nanti kita bagi rata “ bagaimana
menurutmu nak ? “
“terimakasih
ibu , ibu baik sekali . Saya akan bekeja keras dan membuat restoran pisang ijo
dengan semangat dan menghasilkan banyak keuntungan “ jawab Erna penuh
kebahagiaan
Sudah
5 bulan Erna mengelolah restoran itu dan Erna memperoleh banyak keuntungan dari
restoran tersebut . Erna sangat bersyukur karena dari restoran tersebut ia bisa
membeli rumah dan membahgiakan ayahnya .
ia sangat bersyukur kepada Allah karena telah diberi
kebahagiaa atas semua pnderitaan yang telah ia lalui .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar