Minggu, 30 November 2014

Cerpen Kewirausahaan



KEKURANGAN INI MEMBUATKU KUAT

 Tampak kesibukan yang terjadi dirumah pak yarto, pagi-pagi sekali anak bungsunya bangun untuk menyiapkan segala keperluannya untuk barang dagangannya. Anak bungsunya ini memang sangat giat membantu ayahnya yang hanya penjual ikan keliling, ia kini berumur 17 tahun dan menimbah ilmu di sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan jurusan tata boga. anak bungsunya ini bernama Erna, sejak dari kecil sudah membentuk karakter menjadi seorang pekerja keras dan pantang menyerah. Ia juga mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa.
Dengan demikian menjadikan Erna anak yang tak bergantung kepada orang tuannya. Sejak bangun dari tidurnya Erna sudah harus bersiasat dengan waktu. Ketika selesai shalat subuh ia sudah harus menjajahkan daganganya menyusuri jalan berkeliling kampung pada agen-agen yang siap membantunya. Belum lagi ia harus membantu ayahnya kepinggir laut menunggu para nelayan naik dengan ikan tangkapannya.
Hidup Erna sangat tidak beruntung, ia terlahir dari keluarga yang miskin dan kini ia harus menderita akibat dikucilkan oleh temannya dan menjadi korban pembulian yang tak bisa menerima seorang Erna. Erna yang menderita cacat fisik ini harus gigit jari ketika teman sebayanya dapat bermain dan hidup normal tanpa ada beban fisik yang dipikulnya. Namun kekurangannya itu tidak lah membuatnya patah semangat bahkan hal tersebut menjadi motivasi terus berkarya.
Di saat umurnya sembilan belas tahun ia memutuskan untuk berhenti sekolah karena keterbatasan biaya, namun ia tetap menggeluti pekerjaannya sebagai pedagang keliling. Dengan begitu dia merasa sangat percaya diri melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat dari pekerjaan sebelumnya. Untuk menambah penghasilan ia bekerja sampingan sebagai tukang cuci, semir sepatu, dan pemulung.
Hidup Erna tak lepas dari penderitaan, ditambah ibunya yang terserang penyakit kanker rahim, dia tak tau harus berbuat apa lagi, biayanya pun tidak sedikit, Jangankan memikirkan pendidikan biaya makan sehari-hari saja sulitnya bukan main. Erna adalah tulang punggung keluarganya, ia bekerja keras agar bisa mencukupi keperluan hidup sehari-hari, Ayahnya pun sudah sangat tua. Sakit ibunya tak berlangsung lama, ibunya pun meninggal dunia. Erna dan ayahnya sangat sedih, mereka hanya tinggal berdua karna saudara-saudara Erna juga pun sudah meninggal dunia.
Kebutuhan sehari-hari semakin meninggkat, sedang Erna tdak memiliki persediaan makanan lagi dirumahnya. Akhirnya dia pun meminjam uang kepada rentenir. Kemudian dari itulah ia membeli kebutuhan sehari-hari. Tetapi tidak sampai disitu saja, Erna pun semakin bersemangat menjalankan hidupnya dan terus pekerja dan tidak patah semangat.
Suatu ketika Erna mencari pekerajaan, dalam perjalanannya ia tak
sengaja menabrak seseorang.
“maaf..” ucap Erna tulus. (kemudian Erna berbalik dan terkejut melihat seseorang yang ia tabrak tadi)
“ Erna...’’ sapa gadis yang bernama siska.
“si...siska” ucap Erna dengan terbata-bata
“ Erna, apa kabar?” ucap siska
“alhamdulillah, baik!” jawab Erna dengan sangat gembira
“bagaimana keadaan kamu sekarang?” tanya siska dengan penasaran
“seperti yang kamu liat sekarang, tidak ada perubahan dalam hidup saya!” jawab Erna dengan penuh kepiluan
“dimana kamu tinggal sekarang, apa kabar ayah dan ibumu?” tanya siska
“kami masih tinggal di rumah peninggalan kakek, ayahku alhamdulillah baik, dan ibuku baru ini meninggal dunia akibat penyakit kanker rahim yang dideritanya.” Jawab Erna dengan meneteskan air mata.
“apakah kamu mempunyai pekerajan?” tanya siska
“tidak, aku baru ingin mencari!” jawab Erna dengan sangat bersemangat
“kalo begitu, aku dapat memberimu pekerjaan, tapi apakah kamu mau menjadi pencuci piring?” tawaran siska dengan rasa canggung
“tidak masalah yang penting pekerjaan yang halal.” Jawab Erna dengan sangat gembira
Erna dan siska merupakan teman lama, mereka cukup akrab. Dengan pekerjaan yang diberika siska, Erna kemudian dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membayar utang pada rentenir. Hal itu juga yang membuat ia memikirkan cara untuk membuka usaha sendiri, dengan modal yang seadahnya.
Dalam usia Erna yang beranjak dewasa, ia pun memutuskan untuk membuat usaha peyek di kampungnya dan ia jual ke warung-warung terdekat. Disinilah Erna kerap mendapatkan cobaan, buatannya selalu saja ditolak. Apalagi ketika para peimilik warung  mengetahui bahwa  orang cacat dan orang miskin yang membuatnya  . “ah.. peyek tidak berkualitas bagus, pasti rasanya juga tidak enak.” begitu kata orang-orang pada saat awal-awal ia menitip peyek.
Erna tak mau putus asa. Ia tetap mencari warung-warung lain yang mau menerima peyek buatannya. Dari sekian banyak warung tempanya menitipkan dagangannya. Hanya 5 warung yang menerimanya, belum lagi ocehan yang di terimanya. “kenapa peyek buatanmu sangat sedikit, juga kacangnya tidak ada! Aku hanya ingin ambil sedikit.” Kata pemilik warung.
Semakin lama penjualan peyeknya pun semakin tidak memeberikan hasil ,akhirnya  ia pun berhenti . Jadi, ia ingin membuat usaha lain yang menurutnya banyak peminatnya dan dengan modal yang terjangkau pula . Setelah berpikir cukup keras terlintas di benaknya untuk membuat kue pisang ijo yaitu pisang yang dibungkus dengan balutan dadar  yang berwarna hijau.Kue ini merupakan kue khas sulawesi selatan, Makassar. Kue ini adalah kesukaan almarhuma ibunya, hal ini membuatnya semakin semangat dalam menjual pisang ijo tersebut.
Dengan kemauan yang kuat dan kerja kerasnya , Erna berharap agar penjualan pisang ijo nanti disukai  oleh banyak kalangan sehingga mampu memberikan penghasilan yang banyak pula. Erna pun memulai langkahnya dengan mengucapkan basmalah, ia menjual dagangannya di pinggir jalan dekat keramaian kota .
Ternyata tempat ini sangat strategis,banyak pembeli yang singgah dan membeli pisang ijo Erna. Banyak pula pembeli yang memuji bahwa rasa pisang ijonya sangatlah enak dan khas . Erna sangat bersyukur dan dia teringat pada ibunya yang sering membuatkannya pisang ijo .
“wau, pisang ijo buatan kamu  enak sekali “ puji salah satu pelanggan wanita  dengan blouse  merah jambu  yang ia kenakan .
“terimakasih bu’ ... “ jawab Erna sambil menundukkan kepala
“ Sama-sama ,oh ya kenalkan saya ibu Tika (sambil mengulurkan tangannya pada Erna) . lusa saya akan mengadakan arisan di rumah saya , dan saya ingin memesan sekitar 50 porsi pisang ijo ’ .apakah kamu sanggup ?
“50 porsi ? “ tanya Erna kaget
“ iya , masalah harga tidak usah khawatir “ jawab wanita itu dengan santai.
“ baiklah bu “ ucap Erna degan senyum di bibirnya
“ baik , saya tunggu  yah pisang ijonya (sambil memberi alamat rumahnya dan sejumlah uang).  “ ucap wanita itu ramah
Sesampainya di rumah Erna memberi tahu kabar gembira ini kepada ayahnya dan kebahagiaan pun terlihat jelas di raut wajah bapaknya. Tak membuang waktu , Erna pun ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan sementara ayahnya mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan .
Waktunya pun tiba ,Erna mengantarkan pisang ijo tersebut ke alamat yang diberikan wanita itu. Tamu-tamu terlihat sangat menikmati pisang ijo buatanya.
            “wah pisang ijonya enak sekali , pesan dimana ibu ? “ kata salah seorang tamu arisan yang hadir
“ syukurlah kalau ibu menyukainya. Kemarin saya membeli pisang ijo di  penjual kaki lima, karena rasanya sangat enak sayapun memesannya . itu penjual pisang ijonya (sambil menunjuk ke arah Erna) “
“hei nak , wah masih kecil udah jago masak . kamu udah ada kerjaan tidak  ? “ tanya ibu itu menghampiri Erna
“ saya tidak punya pekerjaan tetap ibu , saya hanya pedagang kaki lima yang menjual pisang ijo  “ jawab Erna jujur 
“kalau begitu apa kamu mau bekerja di tempat saya ? saya punya restoran kecil , tapi tidak ada yang kelolah . Mungkin kamu bisa ! katanya mengejutkan Erna
“benarkah ? apa saya boleh bekerja di tempat ibu ?”  tanya Erna memperjelas
“ bukan hanya bekerja tapi saya akan meminjaman restoran untuk kamu kelolah , modalnya saya yang akan fasilitasi dulu dan untunya nanti kita bagi rata “ bagaimana menurutmu nak ? “
“terimakasih ibu , ibu baik sekali . Saya akan bekeja keras dan membuat restoran pisang ijo dengan semangat dan menghasilkan banyak keuntungan “ jawab Erna penuh kebahagiaan
Sudah 5 bulan Erna mengelolah restoran itu dan Erna memperoleh banyak keuntungan dari restoran tersebut . Erna sangat bersyukur karena dari restoran tersebut ia bisa membeli rumah dan membahgiakan ayahnya  . ia  sangat   bersyukur kepada Allah karena telah diberi kebahagiaa atas semua pnderitaan yang telah ia lalui .



           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar